Seorang Pemimpin Berlutut kepada Tuhan Sebelum Berdiri Memimpin Umat Gereja
Oleh: Adolof Gobai, S.Th
Deiyai – Anakkampung.com – Di tengah berbagai tantangan pelayanan gereja pada masa kini, dunia membutuhkan pemimpin yang bukan hanya cakap berbicara dan mengatur, tetapi juga memiliki kehidupan doa yang kuat.
Kepemimpinan sejati tidak dimulai dari jabatan, kemampuan, ataupun pengaruh yang dimiliki seseorang. Kepemimpinan yang berkenan kepada Tuhan justru lahir dari hati yang rendah, berserah, dan tekun berlutut di hadapan-Nya.
Seorang pemimpin yang terlebih dahulu dipimpin oleh Tuhan akan memiliki hikmat dalam mengambil keputusan, keberanian menghadapi tantangan, serta kasih dalam melayani umat. Sebelum memimpin orang lain, seorang pemimpin harus belajar taat kepada Tuhan, hidup dalam kebenaran firman-Nya, dan menjadikan doa sebagai dasar setiap langkah pelayanannya.
Firman Tuhan dalam Matius 6:33 berkata:
"Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu."
Ayat ini mengajarkan bahwa prioritas utama seorang pemimpin bukanlah mengejar kedudukan, penghormatan, ataupun keberhasilan menurut ukuran dunia. Seorang pemimpin dipanggil untuk terlebih dahulu mencari Kerajaan Allah dan hidup dalam kebenaran-Nya. Ketika Tuhan menjadi pusat kehidupan, maka hikmat, kekuatan, dan penyertaan-Nya akan menyertai setiap pelayanan.
Sejarah gereja menunjukkan bahwa para pemimpin yang dipakai Tuhan adalah mereka yang memiliki kehidupan doa yang mendalam, kerendahan hati, kesetiaan dalam perkara kecil, serta keberanian untuk tetap berdiri di atas kebenaran. Mereka tidak mengandalkan kekuatan sendiri, melainkan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan dalam setiap keputusan dan pelayanan.
Melalui teladan para pemimpin gereja, para senior, dan hamba-hamba Tuhan yang telah lebih dahulu melayani, generasi muda dapat belajar tentang arti kesetiaan, tanggung jawab, pengorbanan, integritas, dan komitmen dalam menjaga panggilan pelayanan. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting untuk melahirkan pemimpin-pemimpin gereja yang takut akan Tuhan di masa depan.
Sebagai generasi penerus, kaum muda Kristen di Tanah Papua memiliki tanggung jawab untuk menjaga Obor Injil Empat Berganda agar tetap menyala dari generasi ke generasi. Hal itu hanya dapat diwujudkan apabila mereka membangun hubungan yang erat dengan Tuhan, hidup dalam kekudusan, serta melayani dengan kasih dan kerendahan hati.
Pada akhirnya, seorang pemimpin yang berlutut di hadapan Tuhan akan memperoleh kekuatan untuk berdiri teguh di hadapan umat. Sebab kepemimpinan yang diberkati bukan diukur dari seberapa tinggi posisi seseorang, melainkan dari seberapa dalam hubungan pribadinya dengan Tuhan dan kesediaannya menjadi pelayan bagi sesama.
"Pemimpin yang berlutut di hadapan Tuhan akan mampu berdiri teguh untuk melayani umat-Nya."
Penulis adalah Kader Pemuda KINGMI Adolof Gobai, S. Th.

Post a Comment