Header Ads

ads header

Remaja Kristen Pacaran dengan Orang Lain, Menikah dengan Orang Lain

 


Oleh 

John Pigai


Dogiyai - Anakkampung.com - Dalam kehidupan remaja, masa pacaran sering kali menjadi waktu untuk saling mengenal, belajar memahami karakter, dan mempersiapkan diri menuju masa depan. Namun, tidak sedikit remaja Kristen yang mengalami kenyataan bahwa orang yang pernah dipacari bukanlah orang yang akhirnya menjadi pasangan hidup dalam pernikahan.


Fenomena ini sering menimbulkan pertanyaan: Mengapa bisa pacaran dengan seseorang, tetapi akhirnya menikah dengan orang lain? Dari perspektif iman Kristen, hal ini bukanlah sesuatu yang aneh. Pacaran bukanlah jaminan menuju pernikahan, melainkan proses untuk mengenal satu sama lain dan mencari kehendak Tuhan dalam hidup.


Dalam perjalanan hubungan, seseorang dapat menemukan adanya perbedaan visi, tujuan hidup, karakter, atau panggilan pelayanan yang membuat hubungan tersebut tidak berlanjut ke jenjang pernikahan. Kadang-kadang Tuhan mengizinkan perpisahan terjadi agar masing-masing pribadi dapat menemukan pasangan yang lebih sesuai dengan rencana-Nya.


Alkitab mengajarkan bahwa pernikahan adalah ikatan kudus yang harus dibangun di atas kasih, komitmen, dan kehendak Tuhan. Oleh karena itu, remaja Kristen perlu memahami bahwa tujuan utama pacaran bukan sekadar mencari kesenangan atau status sosial, tetapi mempersiapkan diri menjadi pasangan yang dewasa secara rohani dan bertanggung jawab.


Ketika hubungan berakhir, banyak orang merasa kecewa, sedih, bahkan kehilangan harapan. Namun, orang percaya diajarkan untuk tetap berserah kepada Tuhan. Apa yang tidak menjadi milik kita hari ini belum tentu merupakan kegagalan, melainkan bagian dari proses Tuhan membentuk karakter dan iman kita.


Banyak pasangan suami istri yang hidup bahagia saat ini ternyata tidak menikah dengan orang yang pernah mereka pacari pertama kali. Sebaliknya, mereka menemukan pasangan hidup yang tepat pada waktu yang telah Tuhan tetapkan. Karena itu, remaja Kristen hendaknya tidak menjadikan pacaran sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai proses pembelajaran menuju kedewasaan.


Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah berapa lama seseorang berpacaran atau dengan siapa ia pernah menjalin hubungan, tetapi apakah pernikahan yang dibangun kelak berlandaskan kasih Tuhan, kesetiaan, dan komitmen seumur hidup.


"Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri." (Amsal 3:5)


Semoga setiap remaja Kristen dapat menjalani masa muda dengan bijaksana, menjaga kekudusan hidup, dan menyerahkan masa depan mereka ke dalam tangan Tuhan.



Penulis adalah Pengamat Cerita -Cerita (John  p) 


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.