Orang Kaya Merusak Alam, Orang Miskin Menjaga Alam
Deiyai - Anakkampung.com - Alam merupakan anugerah Tuhan yang diberikan kepada manusia untuk dijaga, dimanfaatkan secara bijaksana, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Namun, kenyataan yang terjadi saat ini sering kali menunjukkan ironi. Banyak kerusakan lingkungan justru dilakukan oleh pihak yang memiliki modal besar, sementara masyarakat kecil yang hidup sederhana justru menjadi penjaga kelestarian alam.
Hutan ditebang secara besar-besaran, sungai tercemar akibat aktivitas industri, dan gunung dikeruk demi mengejar keuntungan ekonomi. Di balik semua itu, masyarakat adat, petani, nelayan, dan warga pedesaan yang kehidupannya sangat bergantung pada alam justru berusaha menjaga keseimbangan lingkungan. Mereka memahami bahwa jika alam rusak, maka kehidupan mereka juga akan terancam.
Ironisnya, ketika terjadi bencana seperti banjir, longsor, atau kekeringan akibat kerusakan lingkungan, masyarakat kecil sering menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Padahal, mereka bukan pelaku utama perusakan alam.
Pembangunan memang penting, tetapi pembangunan yang mengabaikan kelestarian lingkungan hanya akan membawa kerugian jangka panjang. Kemajuan ekonomi seharusnya berjalan seiring dengan tanggung jawab menjaga alam. Kekayaan tidak boleh diperoleh dengan mengorbankan hutan, sungai, dan ekosistem yang menjadi sumber kehidupan.
Sudah saatnya semua pihak—pemerintah, perusahaan, dan masyarakat—memiliki komitmen yang sama untuk menjaga lingkungan. Penegakan hukum terhadap pelaku perusakan alam harus dilakukan secara tegas tanpa memandang status atau kekuasaan.
Alam bukan warisan dari nenek moyang, melainkan titipan untuk anak cucu kita. Karena itu, menjaga alam bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga tanggung jawab bersama demi masa depan yang lebih baik.
"Jika alam dijaga, alam akan menjaga kehidupan manusia. Namun jika alam dirusak, manusia akan menuai akibatnya."
Penulis adalah pengamat cerita-cerita Kampung (John Pigai)

Post a Comment