Header Ads

ads header

Konflik adalah hal manusiawi. Tapi membiarkan konflik jadi kekerasan adalah kegagalan berpikir.


Foto Mantan Gubernur Papua, Lukas Enembe, SE 


Dogiyai - Anakkampung.com - Konflik adalah hal manusiawi. Tapi membiarkan konflik jadi kekerasan adalah kegagalan berpikir.

Orang yang benar-benar kuat bukan yang paling cepat mengangkat senjata, paling keras berteriak, atau paling pandai membakar emosi massa.  

Kekuatan sejati ada pada kemampuan menahan diri, mendengar, dan menyusun argumen tanpa harus merendahkan lawan.


Perdamaian untuk semua pihak dimulai ketika kita sepakat pada 3 hal:


1.Kebenaran lebih penting dari kemenangan.  

 Kalau tujuannya cuma menang debat, kita akan terus bermusuhan. Tapi kalau tujuannya mencari kebenaran, maka kita bisa duduk bersama meski beda suku, agama, dan bahasa.


2.Martabat manusia tidak bisa ditawar.

 Mau dia dari gunung atau lembah, mau dia beda adat atau beda pandangan politik, dia tetap manusia. Dan manusia tidak boleh dijadikan alat untuk tujuan kelompok.


3.Masa depan dibangun dengan dialog, bukan dendam.

 Dendam hanya mengulang luka. Dialog, meski lambat dan melelahkan, adalah satu-satunya jalan membangun Papua yang utuh dan tak tergoyahkan.


Jadi kalau kamu merasa punya kuasa, pakailah untuk menyatukan.  

Kalau kamu merasa terluka, pakailah akal untuk menyembuhkan, bukan membalas.


Karena di muka bumi ini, yang disebut jagoan bukan yang jago perang.  

Tapi yang jago menyatukan.


#segenappimpinanpapuapegunungan.

#parapimpian8kabupaten.

Konflik adalah hal manusiawi. Tapi membiarkan konflik jadi kekerasan adalah kegagalan berpikir.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.